
diperhitungkan dengan angka, stidaknya
secara umum semua terlahir setelah berada dikandungan 9 bulan 10 hari, lahir
dimanapun itu baik melalui rumah sakit bersalin ataupun yang lainnya lagi-lagi
kita diperhadapkan dengan angka-angka, besarnya biaya persalinan, kebutuhan
setelah si bayi lahir semuanya dihadirkan engan angka dalam bentuk rupiah,
perjalan sang bayi juga dihitung dengan angka bahkan disalin dalam lembaran
negara yang memuat tanggal kelahiran kita semua, lagi-lagi angka.
Umur
1tahun, 2 tahun, 3 tahun dan seterusnya juga adalah angka. Maka wajarlah jika
kemudian kita semua saat ini selalu berfikir tentang angka-angka, semua
seakan-akan hanya bisa diukur ketika
semuanya diangkakan. Pertanyaan berapa kemampuan anda, berapa daya beli anda,
berapa uang yang anda miliki, berapa saya harus membayar anda dan pertanyaan
berapa dan berapa semuanya dijawab dengan sangat jelas dengan angka-angka.
Nuranimu terkadang dilangkahi dan dikhianati juga karena angka-angka, koruptor
misalnya ketika mereka berhadapan dengan angka-angka dalam bentuk nominal uang,
maka nuraninya tergadaikan dengan angka-angka. Kita pun ternyata begitu
terpuaskan ketika seseorang menilai kita dengan angka yang bagus, dan begitu
kecewanya kita ketika angka yang diperhadapkan tidak bagus karena yang ada
dipikiran sebentar lagi angka-angka ini yang akan membawa kita semua ke
angka-angka yang lain. Sehingga apaupun yang kita lakukan saat ini selalu
berorientasi keangka-angka.
Angka telah ditakdirkan hadir dan dijadikan tolak ukur untuk menilai
sesuatu, pertanyaannya kemudian angka kah yang menilai kita atau kita yang
mengatur diri kita untuk berada diangka tertentu ? pertanyaan yang lain kita
kah yang berhak meng-angka-kan diri kita atau orang lainkah yang harus
meng-angka-kan kita ?
Rumit jadinya ketika semuanya harus diangkakan, semua orang menjadi
sosok yang sangat perhitungan, semua seakan terlaksana jika angkanya jelas.
Penulis bermimpi suatu waktu dunia ini tanpa angka, seorang baik karena
memang dia baik, seseorang pintar karena memang dia pintar, seseorang
beranggungjawab karena memang dia bertanggungjawab, seorang punya dedikasi
karena memang dia berdedikasi, sesorang jujur karena memang dia jujur, dan
kejujuran, dedikasi, tanggungjawab, disiplin, penampilan semuanya tidak punya
angka, karena ia dinilai lewat nurani yang tidak dapat diangkakan, mampukah
kita semua mengukur dengan angka nurani kita masing-masing ? jawabannya tidak !
mudah-mudahan suatu waktu dunia ini hadir tanpa angka-angka tetapi dunia ini
menilai semuanya dengan nurani, sehingga tidak lagi terdengar seorang yang
sakit tidak tertolong karena tidak punya biaya pengobatan, seseorang
tersingkirkan dalam satu komunitas karena dinilai dengan angka tidak punya
kemampuan, dan seterusnya.


0 komentar:
Posting Komentar